Sabtu, 13 Desember 2025

HAPPY BIRTHDAY

0 komentar
Gak kerasa udah 15 tahun berlalu, sejak aku terakhir kali bisa merasakan saling merayakan ulang tahun dengan pasangan sendiri. Dulu, ketika sama dia, aku punya bayangan keluarga seperti apa yang pengen aku bangun.

Yang bakal sporty banget (karna dia atlet dan aku pencinta olahraga), yang bakal berdasarkan firman Tuhan (karna dia bukan cuma modal agama, tapi bener2 ngajak aku buat berjalan dalam kebenaran dan ketika putus aku berusaha banget memperbaiki hidupku dan menjaga diri sebaik mungkin supaya aku bisa menjadi pasangan yang sepadan dengan dia), yang bakal penuh candaan dan penuh petualangan (karna dia pelawak bgt dan punya jiwa petualang), kami yang bakal punya anak2 dan mereka akan berterima kasih sama aku karna sudah memilih dia sebagai pasangan hidupku, yang bakal punya anak2 pinter dan rendah hati (karna dia, meskipun saat itu dia punya pencapaian yang WOW banget tapi selalu down to earth).

MIST! I screwed my own life.

Aku sama dia cuma 3x saling merayakan ulang tahun. 2x bareng, 1x LDR. Merayakan yang bukan cuma ngucapin dan menganggap tugas selesai, tapi bener2 merayakan. Aku bersyukur pernah dipertemukan dengan kamu dan pernah menghabiskan waktu dengan kamu. Aku bertumbuh dan belajar banyak dari kamu.

Terkadang aku memikirkan hal ini, di Alkitab ada dibilang, salah satu alasan orang tidak menikah karna dibuat seperti itu oleh orang lain. Logika ini sama sekali gak nyambung memang, tapi aku merasa, salah satu alasan kenapa aku tidak terlalu kepikiran nikah, karna aku tidak menemukan pasangan yang punya standar minimum seperti dia. Minim tapi tidak semua bisa. Tidak berkata kasar saat marah, bersandar kepada Tuhan, punya pandangan hidup, saling merayakan ulang tahun, mengajak pasangan melakukan hal benar, hadir dalam hidup pasangan. Terakhir kali aku mengalami ini ketika aku remaja. Masa2 pemberontakan banyak terjadi dan cenderung melakukan hal2 negatif. Tapi dimasa itu aku pounya pasangan yang dewasa dan bisa diandalkan. Bahkan sampai di usiaku yang ke 32 ini, aku masih tetap mengakui bahwa apa yang kami lakukan dulu, semua untuk menjaga kekudusan kami dalam berhubungan, supaya kami punya ikatan yang benar di hadapan Tuhan.

Kamis, 02 Oktober 2025

After years.........

0 komentar

Iseng-iseng cari nama sendiri di internet dan muncullah website blogspot...

Terus kepikiran, 'wah blogspotku sendiri masih ada gak ya....'

DAN ternyataa dia TIDAK PUNAH :)) 

Setelah itu pikiranku kembali ke masa-masa SMA.
Mulai mengulik lagi facebook, mencari tau akun friendster, akun plurk, akun twitter. Kalau-kalau aku masih punya akses dan bisa mengakses. Pikiran mulai kembali ke masa-masa menyenangkan saat mulai pdkt dengan mantan, masa-masa kocak, masa-masa kesel, masa-masa ditembak dan akhirnya pacaran, masa-masa nonton dia tanding basket, masa-masa ngebaca chat dia yang hobi ngelawak, masa-masa dia setiap hari bilang 'God bless you/ God and I love you/I love you/Aku sayang kamu', masa-masa dia belikan aku buku renungan harian, masa-masa bucin tapi gengsi mengakui wkkwkw,

masa-masa jarang telponan tapi dia selalu angkat kalau ditelpon -  bahkan di saat dia ulang tahun dan aku pengen jadi yang pertama yang ngucapin dia di jam 00 WITA. Aku kangen masa itu.. Atau aku kangen orangnya? Gak akan lupa sama kelakuanku yang menyebalkan sampai akhirnya kami putus. Di saat setelah putus baru aku sadar, oh seperti dia ya yang namanya man of God. Waktu gak bikin aku lupa rasanya di pursue sama orang yang punya mental yang dewasa, iman yang terus bertumbuh tapi tetep humoris, yang punya daya tarik leadership tapi tetap rendah hati, yang selalu berusaha hidup sehat, yang dalam marahpun masih tetap memberkati orang, yang gak pernah modal ngomong doang untuk selalu ada tapi bener-bener nunjukin dari tingkah lakunya. Aku stuck di kamu.

Sekarang dalam situasi punya suami tapi aku merasa kosong. Punya pasangan berasa cuma buat status. Selalu menyalahkan diri sendiri kenapa dari dulu gak tegas untuk bilang enggak dan memilih untuk denial. Akhirnya terjebak dalam pilihan sendiri. Menyesal. Sakit hati banget pas lagi berantem dia ngata2in aku. Bikin aku teringat kembali sama perlakuan yang gak menyenangkan dari orang tuaku ke aku. Dan di momen itu aku sadar kalau aku gak pengen punya anak bareng dia.

Rabu, 05 Oktober 2011